Rabu, 15 Oktober 2014

Kata - kata Terakhir


Waktu terus berjalan, setiap detik sangatlah berarti. Seorang anak yang tinggal bersama keluarga kecil dan sederhana. Anak yang manis dan baik hati. Hari – harinya selalu di lalui dengan kecerian. Senyuman di pipi, itulah yang hampir terlihat setiap harinya.
  Sekarang anak itu  sudah beranjak menjadi remaja. Yah, tidak terasa usianya sudah menginjak 17 tahun. Anak itu bernama “Raya” atau biasa di panggil Ray.
  Dan umur 17 tahun bagi remaja zaman sekarang amat rentan dengan yang namanya percintaan. Sangat mudah sekali untuk jatuh hati kepada seseorang. Tidak terkecuali si Raya ini.
   Tidak di pungkiri sejak mulai duduk di bangku SMA, ia mulai merasakan yang namanya jatuh “CINTA”. Memang tidak aneh, tapi mungkin ini benar – benar berbeda seperti kebanyakan remaja seusianya yang merasakan hal yang sama.

Sebenarnya sejak kelas 1 SMA, Raya mengagumi seseorang. Sejak pertama kali bertemu dengan seseorang tersebut, ntah apa yang terjadi pada hati Raya. Awalnya Raya berpikir kalau itu hanyalah perasaaan  kagum biasa. Namun, dengan berjalannya waktu perasaan itu bermetamorfosis menjadi sebuah benih cinta di hatinya.
  Namun, Raya tahu bahwa tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu. Karena Raya hanya teman baginya dan jika perasaan itu tetap di lanjutkan itu akan melukai perasaan Raya sendiri. 1 tahun berlalu, kelas 2 SMA sungguh waktu begitu cepat berlalu.
  1 tahun Raya terus menyimpan perasaannya itu, sungguh aneh yah? Bisakah seseorang menyimpan perasaan begitu lama. Tapi percaya atau tidak, itulah yang terjadi. Mungkin bodoh mencintai seseorang yang belum tentu mencintai kita juga.


 

Boyfriend or justfriend?


Kali ini aku hanya menatapnya, dia ada disana. Berdiri dan ikut mengantri bersama pengunjung yang lain. Beberapa kali aku membidikkan kamera kearahnya, dia hanya tersenyum. Kadang sengaja berpose ria, atau longor tanpa disengaja.
Disanalah dia, seorang cowok dengan postur badan tinggi, matanya yang sipit dan selalu membuatku tertawa. Dimas Aulia.
Kami baru jadian beberapa hari yang lalu, dan ini adalah acara nonton kami yang pertama setelah jadian. Dia menghampiri ku sambil menenteng tiket ditangannya, “Nih, ditengah gak apa kan?” tanyanya manis. Aku hanya tersenyum geli. Apapun yang ia lakukan, selalu saja harus membuatku tetap dalam keadaan baik-baik saja.
Aku dan Dimas tengah menjalani masa kelas 12 SMA, masa yang seharusnya dihabiskan untuk belajar. Aku mengakui kalau ini menang salah, tapi kalau cinta sudah berkata? Maka yang salah pun bisa dibenarkan.
Baginya, aku adalah pacar pertamanya. Ia baru pertama kali pacaran, sedangkan aku? Ya beberapa kali saja aku menjalani masa jomblo, haha. Dia  yang tengah ada dihadapanku, sekarang resmi jadi milikku. Sebenarnya aku tidak percaya dengan ini, kalau kalian tau bagaimana pertama kali kami bertemu.
Dimas dan aku adalah teman satu les semasa smp dulu. Dia tergolong anak yang hobi banget cabut dan bahkan aku tidak terlalu mengenalnya, aku hanya tau namanya saja saking seringnya dia membolos.
Setelah tiga tahun lost contact, kami bertemu lagi di salah satuu jejaring social. Aku tidak ingat kapan aku berteman dengannya. Dengan cepat kami mulai dekat, tau kebiasaan satu sama lain dan akhirnya jadian. Ya jadian kami seperti orang kebanyakan, tidak terlalu seru untuk diceritakan. Yang jelas saat ini aku berada di dekatnya, dn keliatannya ia selalu ingin membuatku terlihat baik-baik saja.
Kadang kami gandengan, tapi lebih sering tidak sih. Aku tidak tau kenapa, yang jelas aku tidak terlalu menuntutnya untuk bersikap romantis padaku. Bingung? Aku pun juga. Tapi begitulah aku dan dimas. Selalu apa adanya, normal dan malah terlalu biasa.
Film yang kami tonton ternyata berbau horor, aku hanya melongo dengan tampang takut. Sementara dimas? Dia asik mengerjaiku dengan mencolek, atau sengaja bergumam seperti film yang tengah kami tonton.
Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, dia tidak menggandengku saat masuk dan keluar dari bioskop. “Masih siang nih, jalan lagi yuk?” ajaknya lagi. Aku hanya mengangguk dan menggikutinya dari belakang. Yap, berjalan terpisah. Kadang aku harus berlari kecil untuk mengejarnya, sepertinya ia terganggu berjalan terlalu dekat denganku.
Hal lain yang sering membuatku bertanya apakah ia sayang padaku atau tidak adalah.. rutinitasnya. Ia bahkan jarang menelfonku, tap kalau dalam frekuensi sms. Dia tidak pernah absen!
“Pagi sayangg”
“Pagi beyy, udah bangun belumm??”
“oiii bebeykuu”
Temanku sering memujiku karna aku dan dimas sangat jarang atau bahkan tidak pernah berkelahi. Jadi hubungan kami makin terasa datar dan hampa. Aneh banget ya?



pelarian (part3)

Yogi
Mungkin ia punya daya tarik tersendiri. Membuat magnet yang tak dapat disadari hingga kita terseret ke dalamnya. Dylan. Ntahlah, aku pun masih tidak mengerti. Mengapa aku selalu ingin ada di dekatnya sejak pertama kali bertemu?.
Sejujurnya aku memang mudah bergaul dengan siappaun. Tapi untuk kali ini, beda. Saat pertama kali ia memperkenalkan dirinya, aku sudah terkunci disana. Aku tidak bisa berlari. Aku bisa merasakan dunia ku berputar lambat, ada angin bertiup pelan, dan sayup-sayup terdengar lagu Sheila on7 – Hari bersamanya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa saat tau ia duduk disebelahku. Bangku itu dulunya pernah diduduki seseorang. Ya, seseorang yang dekat denganku juga. Tapi sudahlah, untuk apa dibahas? Bukannya kita tidak boleh terlalu terkurung dengan masa lalu?.
Setiap hari hanya celotehan yang keluar dari mulutnya, wajar sih “cewek” gitu. Tapi aku lebih suka memperhatikannya dalam diam. Saat tengah mendengarkan music dengan earphonenya, atau saat ia sedang serius dengan gitarnnya. Gitar itu membuat aura manisnya lebih terpancar, dan membuatku terhipnotis.
Haha aku sering menertawakan diriku saat sadar aku mulai terjebak dalam dunia Dylan. Sama seperti saat ini. Aku malah memajang fotonya di salah satu dinding kamarku yang memang kosong, ditambah sebuah wallsticker yang memang sengaja aku beli untuk menambah desainnya. Aku hanya bisa mendesah melihat fotonya, ada apa denganku? Kenapa kalian hanya bisa melongo membacanya? Haha kalian pasti tau maksudku kan?.
Aku menyukainya.
Kata-kata itu selalu saja sempurna saat aku hanya berhadapan dengan fotonya. Kali ini akan aku coba lagi.
*****
“Dylan…”
“Ya?”
“aku…”
“Kenapa? Kok keringetan?”
“Hmmhh…”
“Aku rasa bibit ini udah jadi pohon. Dan aku gak bisa merawatnya sendiri, kamu mau bantuin aku?”
“ya pas…”
“ssstt…, kamu terlalu polos untuk baca hati aku. Untuk baca sikap aku. Mungkin sekarang kamu harus mendengarkannya secara nyata. Dengan jelas dan menatap mataku langsung” matanya mulai berkilat. Aku bisa mendengar suara detak jantungku makin berpacu dengan derasnya keringat dingin di pelipisku.
“Yogi.. kamu bikin aku takut” suaranya terdengar lirih. Aku hanya bisa merengkuhnya, membiarkan ia disana dengan pekatnya cinta yang mungkin terasa olehnya.
“Kamu gak perlu takut. Seharusnya aku yang takut, takut kehilangan kamu. Aku sayang kamu Lan… apa kamu ngizinin aku? To be your hero?”  sesaat setelah mengatakan itu, ia tidak bereaksi apa-apa. Bahkan aku tidak mendengar jawabannya. Tapi pelukannya makin erat, aku bisa merasakan ia mengangguk.
*****
Sekali lagi, aku hanya berhasil pada fotonya. Hanya bisa menggeleng lemah saat tau nyaliku belum cukup kuat untuk mengatakannya secara langsung. Mungkin besok, nanti atau kapan saat nyali itu benar-benar muncul.

Untukmu, aku akan belajar menunggu.

pelarian (part2)

Cowok Basket
Hari ini pelajaran tidak terlalu berat, ya cukup berimbang lah dengan jam kosong karna ditinggal guru. Aktifitas hari ini dipenuhi dengan acara nonton horror. Tasya yang suka film horror membawa semua kaset yang ia punya ke sekolah untuk acara “NOBAR” dadakannya. Satu lagi aktifitas yang Dylan sukai disini. Dan film pun usai tepat dengan bel pulang sekolah, Metha tiba-tiba menghampirinya. “Eh hari ini ada pertandingan basket lho, sekolah kita lawan SMAN Batik!” suaranya terdengar antusias memberitahu Dylan. Namun cewek ini terlihat biasa saja karna menurutnya pertandingan basket memang sewajarnya ada kan?.
“Emang ada yang menarik sampai kamu ceritanya gitu banget,Met?” ia tetap meneruskan aktifitasnya merapikan buku.
Cewek ini menepuk jidatnya, ia lupa kalau Dylan murid baru disini dan pasti dia tidak tau soal anak basket di sekolahnya. “Karna hari ini kapten basket ikutan turun ke lapangan!!” jeritnya tertahan. Beberapa penghuni kelas langsung mendekat kearah pembicaraan mereka.
“Wah! Andre turun ya Met? Aku mesti nonton nih!! Dah lama gak liat dia main sebagai kapten. Ayo cabut ke aula!!” mereka langsung berbondong-bondong turun. Metha langsung menggamit lengan Dylan, mau tidak mau ia harus mengikuti arah tarikan itu.
Aula penuh!. Sepertinya berita tentang Andre yang main sebagai kapten membuat mereka semua antusias, kecuali Dylan. Ia lebih kearah penasaran daripada tertarik. Ternyata pertandingan belum dimulai, ia menghubungi mamanya meberitahu bahwa ia akan sedikit terlambat untuk pulang.
“Sayang banget Yogi gak ikutan nonton, aku kabarin dia dulu kali ya?” tanyanya pada Metha. Tapi temannya ini tampak tak mendengrakan, karna ia terlihat focus ke tengah lapangan basket. Padahal pertandingan belum dimulai.
Me : Yogi? Udah balik dari rumah saudaranya? Aku sama Metha nonton basket di sekolah nih. Kalau dah pulang nyusul kesini ya.
Tepuk tangan mulai menggema, spertinya pertandingan akan dimulai. Benar saja para pemain basket dari masing-masing sekolah mulai masuk. “Keliatan kan kaptennya? Gimana?” ia menyenggol lengan Dylan. Cewek ini menyipitkan matanya, berharap bukan cowok itu yang dilihatnya.
Astaga, benar!. Itu dia! Cowok yang ia lihat saat pertama kali masuk ke sekolah ini. Jadi dia kapten basket? Kharismanya mampu menghipnotis dalam sekejap. Tanpa senyum, tapi matanya memperlihatkan kekuatan kharisma yang ada dalam dirinya.
“Dia beneran kapten basket Met?” wajahnya masih menunjukkan rasa tidak percaya.
“Ya benerlah, masa bohongan? Keren kan? Namanya Andre Mosha Nugraha, senior kita tuh.” Jelasnya sambil tetap focus ketengah lapangan.
“Mosha? Apaan tuh? Kayak nama bule gitu”
“Gak tau, yang jelas namanya unik. Jadi ada nilai tambah gitu deh, udah ah jangan ajak aku cerita. Aku kesini mau nonton bukan mau cerita, kalau mau tau info tentang dia besok deh aku certain”
Jawaban Metha membuat Dylan menatapnya dengan jengkel, segitu fanatiknya kah?. Ia rasa 90% cewek-cewek disini hanya ingin menonton Andre, bukan pertandingan basketnya. Dylan pun demikian, jujur ia memang terpukau pada permainan Andre yang dikombinasikan dengan kharismanya. Beberapa kali ia melakukan fast break, dan shooting dengan indah. Sorak sorai selalu bergemuruh dari kubu tempat ia duduk saat ini. Saat ia melihat ke sekelilingnya ternyata tribun itu penuh dengan cewek-cewek. “Lama-lama budeg nih” gumamnya.
Saking asiknya ia sampai tidak menyadari hpnya terus menyala, menandakan ada sms masuk. Tapi sang pemilik hp ini terlalu asik dengan cowok basket dihadapannya. Hingga pertandingan pun usai, hp itu tetap terbengkalai.
“Keren banget, seharusnya dia sering-sering jadi kapten tuh.”
“Gak nyesal deh pulang jam segini cuman buat liat kapten kece sekolah kita!!”
Ucapan-ucapan itu memang benar adanya, Dylan juga mengiyakan semua komentar itu. Ia langsung mengecek hpnya, layar hp itu mebuatnya membelalak kaget. 20 sms dan 5 panggilan tidak terjawab? Tepat, Yogi!.
Yogi : oke ntar aku coba nyusul ya
Yogi : hey, aku kayaknya gak bisa deh. Tapi kalau jemput kamu sih bisa, gimana?
Yogi : serius banget nontonnya buk?
Dan masih banyak sms yang lainnya, dan sms terakhir membuat Dylan langsung lari tergopoh-gopoh kearah gerbang.
Yogi : aku udah di gerbang ya tuan putri. Buruan!
Sesampainya di gerbang, benar saja. Yogi berdiri disana sambil menatap ke layar hp nya. “Siapa yang minta jemput sih? Kamu nih!” dijitaknya kepala cowok ini. “Lho? Tadi nyuruh aku kesini kan? Ya udah deh aku balik aja” belum sempat ia berbalik, Dylan menahan lengan kokohnya.
“Iya deh aku yang salah. Yuk pulang? Eh Metha?” ia baru sadar langsung lari ke gerbang dan lupa pada temannya itu.
“Udah dia mah gampang, palingan bareng pacarnya”
“Lho? Metha udah punya pacar? Kok dia antusias banget tadi nonton si Andre?” pertanyaan bodoh itu membuat Yogi langsung menatapnya lekat-lekat.“Andre? Dia main sebagai kapten?” Dylan mengangguk kuat. “Yuk pulang” ia langsung menarik tangan cowok itu dan tidak peduli dengan wajah kaget Yogi.
*****
Esoknya Dylan langsung berlari menuju kelasnya, menimbulkan derap langkah yang terdengar nyaring. Ia benar-benar tergesa. Sesampainya dikelas, ia langsung celingak-celinguk di depan pintu. Mana Metha?.
“woi! Jangan tegak di depan pintu” ia tersentak kaget lalu menoleh ke belakang. “Busett, masih pagi neng! Ke kantin mulu nih kerjaan kau!” ia menoyor kepala Metha. Beberapa detik kemudian ia tersadar akan tujuannya mencar Metha. “Buruan cerita!”
Metha memasang wajah tidak mengerti, cerita apaan? Pikirnya. Dylan melihat ke sekitarnya memastikan tidak ada yang mendengarnya, karna ia rasa nama ini sangat berbahaya bila didengar orang lain. “Andre” bisinya lirih, nyaris tidak terdengar.
Untung saja radar pendeteksi suara Metha sudah di set, jadi apapun yang berhubungan dengan “Andre” radarnya itu akan segera connect!. Ia menarik Dylan kea rah balkon, tempat yang cocok untuk cerita karna posisinya bisa melihat siapapun yang akan masuk ke kelas. Termasuk guru.
Dylan menanti dengan rasa penasaran, sedangkan Metha merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat. Ini adalah kesekian kalinya ia harus mengulang cerita Andre yang penuh dengan misteri, namun mendebarkan. Cerita miris tapi masih terus ingin didengarkan. Dylan merasa cerita ini akan memakan waktu lama. Ya iyalah, pembukaannya aja membutuhkan persiapan seperti ini!. Ia pun menyandarkan tubuhnya ke tembok, bersiap mendengarkan apapun yang meluncur dari mulut Metha.
Cerita itu pun dimulai…
*****
Andre Mosha Nugraha. Nama yang sudah lama terkenal dia SMA Pramuka. Kharismanya yang selalu terpancar serta jabatannya sebagai kapten basket  membuat ia selalu menjadi trending topic. Apalagi sikapnya memimpin dan menguasai lapangan basket saat bermain, it’s so charming. Terlebih lagi postur badanmya yang tinggi dan atletis. Matanya yang coklat dan sapuan alis mata yang member kesan tegas. Rahangnya yang kokoh serta lengan-lengan yang siap menghadang musuh dan menopang cinta.
Bukan hanya di pertandingan yang membuat sekolah geger, bahkan ketika latihan pun ada saja kejadian yang diperbincangkan oleh para gadis supporter Andre. Tapi kesannya yang dingin membuat cewek-cewek ini sadar akan posisinya secara nyata. Ada garis kuning yang mereka harus ada di belakangnya.
Hanya cewek-cewek beruntung yang bisa bicara dengannya, dan cewek-cewek beruntung itu adalah teman sekelasnya. Bisa dibayangkan bagaimana suasana belajar kelompok saat ada Andre didalamnya? Sungguh tenang!.
Para cewek itu tidak banyak berkomentar dan berceloteh, mereka hanya menatap Andre dengan desah nafas tertahan. Alhasil, para cowok dikelas Andre kesal karnanya. Mereka lebih memilih isi kelompok itu cowok semua atau Andre yang tidak ada di dalamnya.
Lain halnya dengan cewek-cewek yang tidak sekelas dengan Andre. Mereka hanya bisa berharap bisa bertegur sapa dengannya dijalan. Sekedar bertegur sapa saja itu sudah rekor, itu malah ketinggian. Malah yang lebih parahnya hanya dilihat saja cewek-cewek itu sudah pada heboh sendiri. Ia tidak bisa membayangkan kalau Andre berpidato, mungkin sekolah terpaksa menyiapkan ambulance untuk para siswinya.
“Cinta harus diperjuangkan” mungkin ini yang tertanam di kepala para cewek yang mengejar Andre saat ini. Bila tidak bisa mendapatkan perhatiannya secara langsung, mereka mencoba dengan hadiah!. Alhasil meja cowok itu akan selalu penuh dengan bunga, coklat, puisi dan hal-hal lain khas dari cewek.
Dibuang? Itu mah tindakan kedua. Tindakan pertama, Andre akan melihat nama pengirim dan dimana kelasnya. Lalu ia akan mengantarkan hadiah itu ke kelas cewek tersebut. Tanpa kata-kata ia langsung meletakkannya dihadapan cewek tersebut. Malu? Pastilah. Ditolak di depan jidat kita, gimana gak malu coba?
Ternyata pake nama mah gak mempan, mereka mulai menjadi “Pengagum Rahasia”. Ntah kenapa nih cowok selalu menolak dengan cara yang paling ampuh dan pasti bikin cewek gak bakal mau deket-deket sama dia. Tindakan kedua dilakukan saat hadiah-hadiah itu sudah mulai membuatnya muak.
Tepat di sudut sekolah terdapat satu tong sampah besar. Para siswa di SMAN Pramuka bisa melihatnya dari segala penjuru. Hari itu mungkin hari paling memalukan untuk para cewek pengagum Andre. Tepat disaat istirahat, cowok itu turun dari lantai tiga dengan menyeret kantong besar. Suara seretan itu membuat semua penghuni kelas keluar dan bertanya-tanya, apa yang ada di dalam karung itu?.
Mereka pun tetap menunggu dan melihat dari balkon apa yang akan terjadi selanjutnya. Andre membuka isi karungnya, salah satu isinya terjatuh dan membuat para cewek jadi tutup muka menahan malu. Hadiah mereka dibuang satu persatu oleh Andre!.
Tapi kok cuman bunga? Kemana coklatnya? Apa dikumpulin lalu dijual lagi?
Beberapa hari setelah itu mereka tau kemana coklat-coklat itu pergi. Salah seorang dari penggemar Andre mengikutinya saat pulang. Cowok itu berhenti di sebuah panti asuhan yang cukup lusuh. Anak-anak disana menyambutnya dengan riang, sepertinya ia sudah cukup akrab dengan anak-anak disana. Cowok itupun kembali ke mobilnya dan membuka pintu belakang, disana bertumpuk coklat-coklat hadiah dari cewek-cewek itu. Ia pun mulai membagikan coklat tersebuat pada anak-anak disana. Lagi-lagi cowok ini menutupi nilai minus yang nyaris dicetaknya.
Melihat sikap Andre yang selalu acuh tak acuh , para cewek ini mulai mencari pacar. Ternyata setelah pacaranpun mereka masih saja memantau sang idola sekolah. Cinta pertama saat bersekolah disini.
Dibalik itu semua Andre menyimpan kisah cintanya yang kelam. Permainannya kemarin membuat seisi sekolah geger, karna ini kali pertama ia turun ke lapangan sebagai kapten setelah kejadian di masa lalu.
Masa lalu kerap kali mengurung, itulah yang dirasakannya. Mungkin orang berfikir, “mellow banget sih jadi cowok?”. Tapi itulah kenyataannya, ia memang lemah dengan rasa itu. rasa yang indah dan membungkus rasa sakit didalamnya.
Cinta yang ia tunjukkan ternyata tidak berbalas dengan hal yang sama, justru sebaliknya. Ingin berlari tapi ia belum cukup kuat untuk berdiri. Berharap dirinya bisa menjadi kapas saat itu, melayang sesaat untuk melepas beban yang membasahinya.
 Mosya? Nama yang terdengar unik bukan? Mungkin orang berfikir nama itu seperti nama bule-bule yang sengaja disematkan padanya. Atau sebuah nama yang diambil dari filosofi kuno, dan hal-hal lainnya.
Tapi sesungguhnya ada makna lain dibalik nama itu, ada ikatan dibalik nama itu. Sebuah lagu yang tengah menanti untuk diengarkan, tapi pemutarnya terlalu tua dan enggan untuk menari dengan piringan lagu itu.
Kisah klasik yang cukup menyakitkan untuknya, cinta yang pergi begitu saja. Harapan yang lepas dengan nyata di hadapannya, kebohongan yang terbongkar langsung oleh pelakunya. Ucapan itu masih terngiang-ngiang jelas ditelinganya. Masih sama persis.
*****
“Aku gak mau punya hubungan kayak gini! Kenapa aku gak boleh punya hubungan sama cowok lain? Kenapa?! Ini gak adil!” teriaknya kearah laki-laki itu. seolah-olah dialah penyebab semua keterkurungannya selama ini.
“apa kamu gak ada rasa buat aku cha? Apa kedekatan ini hanya karna ikatan orangtua kita?”
“iya” jawaban ketus dengan rasa putus asa. Cowok ini hanya bisa terdiam, ia kehabisan kata-kata. Apa yang hars ia katakana? Gadis dihadapannya jelas-jelas sudah menolaknya dengan tegas. Apa yang harus ditahannya?
“Cha, tenangin diri kamu dulu”
“Diam kamu! Aku capek tau gak. Berpura-pura bahagia padahal aku terkurung. Aku cumin mau ngerasain cinta yang sebenarnya. Murni. Bukan cinta yang diatur kayak gini!”Ia meraih gadis itu dalam rengkuhannya, membiarkannya terdiam disana. Merasakan tiupan angin di telinganya, seolah-olah menyanyikan lagu “selamat tinggal”.
Untuk beberapa saat ia berharap gadis ini akan berubah pikiran, hingga dalam rengkuhannya pun gadis ini tidak bereaksi apa-apa. “kalau kamu emang gak mau punya hubungan kayak gini oke, aku bakal bilang ke orangtua kamu dan aku supaya perjodohan ini dibatalin. Oke?” suaranya tercekat,getir.
Gadis ini tidak medengarkannya, pikirannya kacau. Kenapa ia harus dijodohkan terlalu dini? Kenapa?.
Andremenguraikan pelukannya, menatap gadis ini dengan luka. Meskipun dijodohkan tapi cowok ini memang menyayangi gadis dihadapannya ini. Ia ingin menahannya, tapi ia rasa saat ini adalah waktu untuk membiarkannya lepas. Meskipun berat, tapi ia harus melakukannya.
“Kalau kamu sudah lelah mencari cinta yang semu, tolong datang lagi padaku. Akan aku tunjukkan cinta yang nyata”
Angin bertiup pelan mengiringi perpisahan itu. Tidak ada yang bisa disalahkan kalau hati sudah bicara. Mencoba menerima dengan robekan hati yang tak terduga.
*****
Cewek ini hanya bisa melongo dengan apa yang didengarkannya barusan. Sebuah kisah klasik yang ditutup dengan teka-teki.
“Dor!”, “bugh”. Yogi datang dan membuat kepala Dylan terbentur ke belakang dengan kerasnya,kaget. “Yogiiiiii!” teriaknya nyaring. Cowok ini hanya terkekeh geli, ia mengusap kepala Dylan yang terbentur tadi.
“Aduh! Ngiluuu~”
“Ya habis, ceritanya keliatan seru. Yaudah sekalian latihan jantung” ujarnya sambil terkekeh.
“latihan nyopotin jantung maksudnya?” Tanya Dylan dengan tampang cemberut, cowok ini hanya cengengesan saja.

Cerita Metha malah membuat rasa penasaran Dylan kian membuncah. Ia ingin menyelesaikan teka-teki ini. Menyelesaikan dengan berakhir bersamanya atau berakhir dilain hati.

pelarian (part1)

Pelarian
“..namun tiba-tiba kau ada yang punya, hati ini terluka.. sungguh ku kecewa.. ingin ku berkata.. kasih maaf bila aku jatuh cinta, maaf bila saja kusuka saat kau ada yang punya..“
Gadis itu menatap ke sekelilingnya, sepi. Tas punggung dan gitar ditangannya cukup memberatkan. Diliriknya jam tangan memang sudah pukul 8, pasti sudah masuk pikirnya. Ia melangkah menuju area sekolah itu, menuju ke satu ruangan. saat melewati aula tiba-tiba langkahnya terhenti, matanya tertancap di satu titik. Tepat ke tengah lapangan, dimana salah satu cowok sedang asik mendribble bola di tangannya.
Ia merasakan angin berhembus ke arahnya, meniup helai-helai rambutnya. Tatapan itu membuat ia terhenti sejenak, semua benar-benar ke satu titik. Cowok itu. sayup-sayup terdengar lagu Sheila on7 Hari Bersamanya
“Hey,kamu gak masuk ke kelas? Kelas berapa kamu?” Tanya itu seketika membuyarkan pandangannya. Dihadapannya berdiri wanita paruh baya dengan kacamata dan tengah bertolak pinggang sambil memelototinya. Ia hanya menelan ludah, “Maaf buk, saya murid baru. Saya mau nyari kantor guru BK” ujarnya terbata-bata.
Wanita ini sepertinya masih curiga, “baik,ayo ikut saya ke kantor BK. Tapi tolong bando music kamu itu dicopot”. Dylan menatap bingung kearah guru ini, bando music?. Disentuhnya kepala, ternyata earphone. Ia hanya mengulum senyum, “kenapa kamu senyum-senyum?” cewek ini langsung menggeleng cepat.
Dylan mengikuti guru dihadapannya sambil terus memikirkan cowok tadi. “Kalau cowok itu main di aula tadi, berarti dia sekolah disini? Tapi kelas berapa ya? “ pertanyaan itu berkecamuk di kepalanya hingga ia sampai ke kantor BK. “Makasih ya buk” tapi wanita itu keburu balik badan dan tidak mendengar ucapan terimakasih darinya.
Ia mengetuk pintu, tak berapa lama keluar seorang wanita dari dalam dan melemparkan senyum sekenanya,“Maaf buk, saya Dylan. Murid pindahan yang kemarin, saya mau tau kelas saya dimana” ucapnya sambil tersenyum. Wanita yang kali ini terlihat lebih ramah dari yang tadi.
“ohh Dylan, sebentar ya saya cari arsip kamu dulu. Ayo duduk”
Gadis ini menatap ke sekelilingnya, kantor BK nya nyaman. Apa kelasnya akan senyaman ini?. “kamu suka main gitar?” Tanya itu membuat aktfitas menatapnya terhenti. Dylan mengangguk, “sudah berapa lama?” tanyanya lagi. “kira-kira 4 tahun buk” jawabnya sambil tersenyum.
“ini dia arsip kamu, kamu masuk ke kelas XI ips 6. Nanti saya yang ngantar kamu kesana”
“makasih buk” ujarnya seraya berdiri.
“ayo kita ke kelas kamu”
Kelasnya terletak di lantai 2 dan tepat di paling pojok. Tapi disana terdapat balkon yang menghadap langsung ke lapangan basket, jadi kalau ada pertandingan basket ia tinggal menjorokkan kepalanya saja. Basket? Ia jadi teringat cowok tadi.
Tepat di depan pintu kelas, “selamat bergabung” ucapnya sambil tersenyum.
“Permisi buk, ini ada murid baru” seketika aktifitas belajar jadi terhenti. Dan semua penghuni kelas itu menoleh kearah Dylan. Ia jadi salting. Gadis ini mencoba tersenyum menatap kearah mereka. Beberapa cewek disana berbisik-bisik sambil melihat kearahnya. “semoga gak terjadi apa-apa” gumamnya.
“ayo perkenalkan diri kamu”
Dylan menelan ludahnya, ia bisa merasakan keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. “Nama saya Nadylan Aresta, biasa dipanggil Dylan. Saya pindahan dari Bandung. Mohon bantuannya” suasana kelas makin hening dan membuat Dylan ingin pingsan. Tapi tak berapa lama, “SELAMAT DATANG DYLAN!! WELCOME TO OUR CLASS” semuanya berteriak riuh membuat suasana dingin tadi seketika meleleh.
“Maaf ya Dylan, itu memang kebiasaan kelas ips. Kalau ada murid baru mereka akan menyambutnya dengan antusias seperti tadi” Dylan hanya mengangguk paham.
“Kamu duduk di sebelah Yogi ya” cewek ini mengangguk dan berjalan kea rah cowok itu. “ciyeeehhh Yogii, Ciyeeehhhhh” suara sorak sorai bergemuruh hebat. Dylan hanya terdiam dengan wajah heran. Memang ada apa dengan cowok di sebelahnya?. “Mereka emang biasa gitu, welcome ya. Aku Yogi, yuk duduk” wajahnya ramah dan terlihat ceria. Pasti menyenangkan bisa duduk di sebelahnya. “aku gak perlu sebutin nama aku lagi kan?” Tanya Dylan memastikan. “ahaha gak lah, aku dah tau kok. Milan kan? Forza Milan!” tawanya terdengar renyah, ia berhasil membuat Dylan nyaman dengan lingkungan barunya. “Karna ini hari pertama aku maafin deh ya”.
Tiba-tiba ada yang mencolek lengannya, Dylan sontak menoleh. “Hey aku Metha, hati-hati ya sama Yogi. Terlalu nyaman di deket dia bisa bikin jatuh cinta lhoo” bisiknya, namun Yogi bisa menangkap suara itu. “Wahh kau Met, awas deh ya” tunjuknya kea rah Metha. Gadis itu hyanya cekikikan bersama Dylan.
Selamat datang ke lingkungan baru Dylan!
*****
Buku-buku dihadapannya masih putih bersih. Yap, buku baru. Hari ini Dylan sudah resmi kembali ke pekerjaannya, belajar dan mengerjakan tugas dari guru. Ia merogoh tasnya, mencari pensil caplet birunya.
Malam ini ia akan mengerjakan 3 pr yang harus dikumpulkan besok. Dipretelinya nomor di buku ekonomi itu satu persatu, beberapa nomor dengan cepat ia kerjakan. Dan disaat bersamaan satu video call masuk ke hpnya. Metha? “ada apa Met?  Aku lagi ngerjain tugas nih” ujarnya sambil memperlihatkan buku-buku yang bertumpuk di hadapannya. “wah sama dong, kita juga lagi ngerjain tugas. Yuk bareng sini”.
Kita? Dylan sempat bingung dengan ucapan Metha. Dan saat cewek itu mengarahkan kea rah ruang tamunya, ternyata teman sekelasnya tengah berkumpul disana sambil berkutat di buku masing-masing. Tapi ia tidak melihat Yogi disana.
“lho?....” ia baru akan bertanya tapi Metha keburu memotongnya. “Yogi kan? Ciyeehhh, dia lagi OTW tuh kerumah kamu. Buruan siap-siap gih. Kita tunggu ya” telfon itu terputus.
“Dylan, ada temen kamu nihh” suara  mamanya terdengar cukup nyaring. Pasti Yogi, pikirnya.
Ia langsung mengambil bukunya dan memasukkannya ke dalam ransel lalu membawanya turun. “Mau kemana? Pacaran sambil bawa ransel gini” colek mamanya. “eehh mama, mau belajar kelompok tau” ia berusaha membenarkan ucapan mamanya.
Yogi yang berdiri di ambang pintu hanya mengulum senyum. “Yaudah kita pamit dulu ya Tan” pamitnya pada Mama Dylan. “iya, Tante titip Dylan ya Yogi”. Cewek ini langsung terdiam. “lho? Mama udah kenalan sama Yogi? Hah?” begitu cepatnya cowok ini membuat suasana mencair, ia hingga kehabisan kata-kata.
Cowok ini langsung menggamit lengannya.
Sepanjang perjalanan Dylan tidak henti-hentinya bertanya pada Yogi tentang mamanya, tentang sekolah dan semua hal di lingkungan barunya.
“Makanya sering keluar dong nona Dylan” ucapnya sambil menarik lembut pipi Dylan.
Ini lebih dari kerja kelompok!. Metha ternyata nyiapin makanan yang gak terkira, ia sampe ngeluarin panggangan buat bikin barbeque party kecil-kecilan *katanya. “Kok sampe barbequean gini Met? Katanya mau ngerjain tugas?”
“Metha emang gitu, kalau kerja kelompok dirumah dia pasti heboh gini. Jadi mulai biasakan diri ya” bisik Yogi pelan.
“Mama sama Papa aku lagi keluar kota, daripada aku beli makanan diluar mulu mending aku makan bareng kalian disini. Ya kan?” Dylan hanya mengangguk mengiyakan. “Yaudah aku negrjain tugas bentar ya, kalian kayaknya dah pada kelar nih. Ntar kalau dah selesai aku gabung deh” ia beranjak masuk ke dalam rumah Metha.
Rumah ini memang terlalu besar dan terlalu sunyi untuk Metha, jadi wajar aja dia selalu ngundang temen sekelasnya supaya rumah jadi rame. Terlihat hanya beberapa orang saja yang tinggal diruang tamu Metha, “kalian belum pada siap?”.
“Nih udah mau kelar Lan, buruan gih nyalin punya Gian. Dia udah kelar tuh. Dan pasti bener kok” Reno menyodorkan buku itu kearah Dylan. Cewek ini langsung bergegas, saat dirogohnya tas baru ia sadar pensil capletnya tertinggal di atas meja belajar.
“Nih” Yogi meminjamkan pensil caplet putih itu padanya. Tanpa aba-aba Dylan langsung bergegas menyalinnya, dengan Yogi yang menemani di sebelahnya.
Metha melongok kearah ruang tamu, ia memberikan kode pada salah satu temannya yang masih di ruang tamu. Isyarat itu menyuruh agar Reno keluar dan membiarkan mereka berdua saja diruang tamu. Cowok itu pun bergegas keluar dan meninggalkan Dylan bersama Yogi.
Tidak ada percakapan apapun. Dylan benar-benar focus pada tugas –menyalin-nya. Saat selesai baru ia sadar Yogi sudah tertidur. Ia ingin membangunkan cowok itu, tapi guratan lelah itu membatalkan niatnya.
Ia segera bergabung dengan acara barbeque Metha, “mana Yogi?” Tanya Metha saat sadar cowok itu tidak ikut bergabung bersama Dylan. “tidur” ujarnya singkat.
“aku bangunin deh ya”
“ehh gak usah, biar aja. Dia capek tuh, ntar bungkusin aja buat dia”
“tapi dagingnya udah keburu habis, terpaksa masak lagi”
“ya udah sini aku yang masakin” Dylan menyingsingkan lengannya dan mulai membakar daging.
*****
Ternyata cowok ini benar-benar tertidur pulas, “Yogi, pulang yuk?”. Ia mengguncang-guncang tubuh cowok ini. “eengghh~” ia menggeliat. “Yogi… banguunnn!!” teriaknya. Tiba-tiba cowok itu menangkap tangannya, mengenggam keduanya agar tidak bergerak. Dylan sempat terdiam.
Beberapa kali ia mencoba menarik tangannya, bukannya terlapas justru Yogi makin mengetatkan genggamannya. “Gak ada cara lain nih” gumamnya.
“Arggghhh!!” cowok itu langsung terlonjak kaget. “Aw Dylan, sakit!. Kok ngegigit sih?” jeritnya. Ia mengibaskan tangannya karna kaget dan gigitan Dylan yang lumayan sakit. “Ayo pulang, kamu nih tidurnya kebo banget”
Wajahnya terlihat bingung, saat diliriknya kearah jam tangan barulah ia sadar. “Ayo buruan”
“Masih sakit ya?” tanyanya, ia melihat Yogi masih mengibas-ngibaskan tangannya. “Lumayan sih, jangan-jangan gigi kamu taring semua lagi” ucapnya cengengesan.
 “enak aja!”.
Sesampainya dirumah, Yogi ternyata ikut turun. “Aku yang jemput berarti aku yang nganter lagi”.
“Maaf ya Tante, kemaleman nih. Tadi Yogi ketiduran” ujarnya.
“Iya gak apa, makasih ya Yogi. Lain kali kalau mau jalan izinnya kayak tadi lagi ya” wanita paruh baya itu mengedipkan sebelah matanya.
“okesip” ia mengacungkan jempol.
Cowok itu bergegas berjalan kemobilnya dan segera meluncur pulang. Ditengah perjalanan baru ia sadari ada kotak kecil di dasbor mobilnya. Secarik kertas tertempel disana. Kertas kecil itu berhasil mencetak satu senyum di bibirnya.
“Dimakan ya, aku yang masak nih. Kamu sih ketiduran, nih aku bungkusin supaya kamu juga ikutan makan. Gnight Yogi. *Dylan “


















who are we??

yang jelas kita manusia dan terdiri atas 2 orang. kita bakal berusaha buat ngehibur para penikmat tulisan. dan membawa kalian tour ke dalam tulisan yang lebih seru daripada yang lainnya. jjadii.. inilah kita..
hikari dan sugus. panggil aja begitu, because, our identity is our privacy.. hahahahaha cyah ilahhhh