Pelarian
“..namun tiba-tiba kau ada yang punya, hati ini
terluka.. sungguh ku kecewa.. ingin ku berkata.. kasih maaf bila aku jatuh
cinta, maaf bila saja kusuka saat kau ada yang punya..“
Gadis
itu menatap ke sekelilingnya, sepi. Tas punggung dan gitar ditangannya cukup
memberatkan. Diliriknya jam tangan memang sudah pukul 8, pasti sudah masuk
pikirnya. Ia melangkah menuju area sekolah itu, menuju ke satu ruangan. saat
melewati aula tiba-tiba langkahnya terhenti, matanya tertancap di satu titik.
Tepat ke tengah lapangan, dimana salah satu cowok sedang asik mendribble bola di tangannya.
Ia
merasakan angin berhembus ke arahnya, meniup helai-helai rambutnya. Tatapan itu
membuat ia terhenti sejenak, semua benar-benar ke satu titik. Cowok itu. sayup-sayup
terdengar lagu Sheila on7 Hari Bersamanya
“Hey,kamu
gak masuk ke kelas? Kelas berapa kamu?” Tanya itu seketika membuyarkan
pandangannya. Dihadapannya berdiri wanita paruh baya dengan kacamata dan tengah
bertolak pinggang sambil memelototinya. Ia hanya menelan ludah, “Maaf buk, saya
murid baru. Saya mau nyari kantor guru BK” ujarnya terbata-bata.
Wanita
ini sepertinya masih curiga, “baik,ayo ikut saya ke kantor BK. Tapi tolong
bando music kamu itu dicopot”. Dylan menatap bingung kearah guru ini, bando
music?. Disentuhnya kepala, ternyata earphone.
Ia hanya mengulum senyum, “kenapa kamu senyum-senyum?” cewek ini langsung
menggeleng cepat.
Dylan
mengikuti guru dihadapannya sambil terus memikirkan cowok tadi. “Kalau cowok
itu main di aula tadi, berarti dia sekolah disini? Tapi kelas berapa ya? “
pertanyaan itu berkecamuk di kepalanya hingga ia sampai ke kantor BK. “Makasih
ya buk” tapi wanita itu keburu balik badan dan tidak mendengar ucapan
terimakasih darinya.
Ia
mengetuk pintu, tak berapa lama keluar seorang wanita dari dalam dan
melemparkan senyum sekenanya,“Maaf buk, saya Dylan. Murid pindahan yang
kemarin, saya mau tau kelas saya dimana” ucapnya sambil tersenyum. Wanita yang
kali ini terlihat lebih ramah dari yang tadi.
“ohh
Dylan, sebentar ya saya cari arsip kamu dulu. Ayo duduk”
Gadis
ini menatap ke sekelilingnya, kantor BK nya nyaman. Apa kelasnya akan senyaman
ini?. “kamu suka main gitar?” Tanya itu membuat aktfitas menatapnya terhenti.
Dylan mengangguk, “sudah berapa lama?” tanyanya lagi. “kira-kira 4 tahun buk”
jawabnya sambil tersenyum.
“ini
dia arsip kamu, kamu masuk ke kelas XI ips 6. Nanti saya yang ngantar kamu
kesana”
“makasih
buk” ujarnya seraya berdiri.
“ayo
kita ke kelas kamu”
Kelasnya
terletak di lantai 2 dan tepat di paling pojok. Tapi disana terdapat balkon
yang menghadap langsung ke lapangan basket, jadi kalau ada pertandingan basket
ia tinggal menjorokkan kepalanya saja. Basket? Ia jadi teringat cowok tadi.
Tepat
di depan pintu kelas, “selamat bergabung” ucapnya sambil tersenyum.
“Permisi
buk, ini ada murid baru” seketika aktifitas belajar jadi terhenti. Dan semua
penghuni kelas itu menoleh kearah Dylan. Ia jadi salting. Gadis ini mencoba
tersenyum menatap kearah mereka. Beberapa cewek disana berbisik-bisik sambil
melihat kearahnya. “semoga gak terjadi apa-apa” gumamnya.
“ayo
perkenalkan diri kamu”
Dylan
menelan ludahnya, ia bisa merasakan keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.
“Nama saya Nadylan Aresta, biasa dipanggil Dylan. Saya pindahan dari Bandung.
Mohon bantuannya” suasana kelas makin hening dan membuat Dylan ingin pingsan.
Tapi tak berapa lama, “SELAMAT DATANG DYLAN!! WELCOME TO OUR CLASS” semuanya
berteriak riuh membuat suasana dingin tadi seketika meleleh.
“Maaf
ya Dylan, itu memang kebiasaan kelas ips. Kalau ada murid baru mereka akan
menyambutnya dengan antusias seperti tadi” Dylan hanya mengangguk paham.
“Kamu
duduk di sebelah Yogi ya” cewek ini mengangguk dan berjalan kea rah cowok itu.
“ciyeeehhh Yogii, Ciyeeehhhhh” suara sorak sorai bergemuruh hebat. Dylan hanya
terdiam dengan wajah heran. Memang ada apa dengan cowok di sebelahnya?. “Mereka
emang biasa gitu, welcome ya. Aku Yogi, yuk duduk” wajahnya ramah dan terlihat
ceria. Pasti menyenangkan bisa duduk di sebelahnya. “aku gak perlu sebutin nama
aku lagi kan?” Tanya Dylan memastikan. “ahaha gak lah, aku dah tau kok. Milan
kan? Forza Milan!” tawanya terdengar renyah, ia berhasil membuat Dylan nyaman
dengan lingkungan barunya. “Karna ini hari pertama aku maafin deh ya”.
Tiba-tiba
ada yang mencolek lengannya, Dylan sontak menoleh. “Hey aku Metha, hati-hati ya
sama Yogi. Terlalu nyaman di deket dia bisa bikin jatuh cinta lhoo” bisiknya,
namun Yogi bisa menangkap suara itu. “Wahh kau Met, awas deh ya” tunjuknya kea
rah Metha. Gadis itu hyanya cekikikan bersama Dylan.
Selamat
datang ke lingkungan baru Dylan!
*****
Buku-buku
dihadapannya masih putih bersih. Yap, buku baru. Hari ini Dylan sudah resmi
kembali ke pekerjaannya, belajar dan mengerjakan tugas dari guru. Ia merogoh
tasnya, mencari pensil caplet birunya.
Malam ini ia
akan mengerjakan 3 pr yang harus dikumpulkan besok. Dipretelinya nomor di buku
ekonomi itu satu persatu, beberapa nomor dengan cepat ia kerjakan. Dan disaat
bersamaan satu video call masuk ke hpnya. Metha? “ada apa Met? Aku lagi ngerjain tugas nih” ujarnya sambil
memperlihatkan buku-buku yang bertumpuk di hadapannya. “wah sama dong, kita
juga lagi ngerjain tugas. Yuk bareng sini”.
Kita? Dylan
sempat bingung dengan ucapan Metha. Dan saat cewek itu mengarahkan kea rah
ruang tamunya, ternyata teman sekelasnya tengah berkumpul disana sambil
berkutat di buku masing-masing. Tapi ia tidak melihat Yogi disana.
“lho?....” ia
baru akan bertanya tapi Metha keburu memotongnya. “Yogi kan? Ciyeehhh, dia lagi
OTW tuh kerumah kamu. Buruan siap-siap gih. Kita tunggu ya” telfon itu
terputus.
“Dylan, ada
temen kamu nihh” suara mamanya terdengar
cukup nyaring. Pasti Yogi, pikirnya.
Ia langsung
mengambil bukunya dan memasukkannya ke dalam ransel lalu membawanya turun. “Mau
kemana? Pacaran sambil bawa ransel gini” colek mamanya. “eehh mama, mau belajar
kelompok tau” ia berusaha membenarkan ucapan mamanya.
Yogi yang
berdiri di ambang pintu hanya mengulum senyum. “Yaudah kita pamit dulu ya Tan”
pamitnya pada Mama Dylan. “iya, Tante titip Dylan ya Yogi”. Cewek ini langsung
terdiam. “lho? Mama udah kenalan sama Yogi? Hah?” begitu cepatnya cowok ini
membuat suasana mencair, ia hingga kehabisan kata-kata.
Cowok ini
langsung menggamit lengannya.
Sepanjang
perjalanan Dylan tidak henti-hentinya bertanya pada Yogi tentang mamanya,
tentang sekolah dan semua hal di lingkungan barunya.
“Makanya sering
keluar dong nona Dylan” ucapnya sambil menarik lembut pipi Dylan.
Ini lebih dari
kerja kelompok!. Metha ternyata nyiapin makanan yang gak terkira, ia sampe
ngeluarin panggangan buat bikin barbeque party kecil-kecilan *katanya. “Kok
sampe barbequean gini Met? Katanya mau ngerjain tugas?”
“Metha emang
gitu, kalau kerja kelompok dirumah dia pasti heboh gini. Jadi mulai biasakan
diri ya” bisik Yogi pelan.
“Mama sama Papa
aku lagi keluar kota, daripada aku beli makanan diluar mulu mending aku makan
bareng kalian disini. Ya kan?” Dylan hanya mengangguk mengiyakan. “Yaudah aku
negrjain tugas bentar ya, kalian kayaknya dah pada kelar nih. Ntar kalau dah
selesai aku gabung deh” ia beranjak masuk ke dalam rumah Metha.
Rumah ini memang
terlalu besar dan terlalu sunyi untuk Metha, jadi wajar aja dia selalu ngundang
temen sekelasnya supaya rumah jadi rame. Terlihat hanya beberapa orang saja
yang tinggal diruang tamu Metha, “kalian belum pada siap?”.
“Nih udah mau
kelar Lan, buruan gih nyalin punya Gian. Dia udah kelar tuh. Dan pasti bener
kok” Reno menyodorkan buku itu kearah Dylan. Cewek ini langsung bergegas, saat
dirogohnya tas baru ia sadar pensil capletnya tertinggal di atas meja belajar.
“Nih” Yogi
meminjamkan pensil caplet putih itu padanya. Tanpa aba-aba Dylan langsung
bergegas menyalinnya, dengan Yogi yang menemani di sebelahnya.
Metha melongok
kearah ruang tamu, ia memberikan kode pada salah satu temannya yang masih di
ruang tamu. Isyarat itu menyuruh agar Reno keluar dan membiarkan mereka berdua
saja diruang tamu. Cowok itu pun bergegas keluar dan meninggalkan Dylan bersama
Yogi.
Tidak ada
percakapan apapun. Dylan benar-benar focus pada tugas –menyalin-nya. Saat
selesai baru ia sadar Yogi sudah tertidur. Ia ingin membangunkan cowok itu,
tapi guratan lelah itu membatalkan niatnya.
Ia segera
bergabung dengan acara barbeque Metha, “mana Yogi?” Tanya Metha saat sadar
cowok itu tidak ikut bergabung bersama Dylan. “tidur” ujarnya singkat.
“aku bangunin
deh ya”
“ehh gak usah,
biar aja. Dia capek tuh, ntar bungkusin aja buat dia”
“tapi dagingnya
udah keburu habis, terpaksa masak lagi”
“ya udah sini
aku yang masakin” Dylan menyingsingkan lengannya dan mulai membakar daging.
*****
Ternyata cowok
ini benar-benar tertidur pulas, “Yogi, pulang yuk?”. Ia mengguncang-guncang
tubuh cowok ini. “eengghh~” ia menggeliat. “Yogi… banguunnn!!” teriaknya.
Tiba-tiba cowok itu menangkap tangannya, mengenggam keduanya agar tidak
bergerak. Dylan sempat terdiam.
Beberapa kali ia
mencoba menarik tangannya, bukannya terlapas justru Yogi makin mengetatkan
genggamannya. “Gak ada cara lain nih” gumamnya.
“Arggghhh!!”
cowok itu langsung terlonjak kaget. “Aw Dylan, sakit!. Kok ngegigit sih?”
jeritnya. Ia mengibaskan tangannya karna kaget dan gigitan Dylan yang lumayan
sakit. “Ayo pulang, kamu nih tidurnya kebo banget”
Wajahnya
terlihat bingung, saat diliriknya kearah jam tangan barulah ia sadar. “Ayo
buruan”
“Masih sakit
ya?” tanyanya, ia melihat Yogi masih mengibas-ngibaskan tangannya. “Lumayan
sih, jangan-jangan gigi kamu taring semua lagi” ucapnya cengengesan.
“enak aja!”.
Sesampainya
dirumah, Yogi ternyata ikut turun. “Aku yang jemput berarti aku yang nganter
lagi”.
“Maaf ya Tante,
kemaleman nih. Tadi Yogi ketiduran” ujarnya.
“Iya gak apa,
makasih ya Yogi. Lain kali kalau mau jalan izinnya kayak tadi lagi ya” wanita
paruh baya itu mengedipkan sebelah matanya.
“okesip” ia
mengacungkan jempol.
Cowok itu
bergegas berjalan kemobilnya dan segera meluncur pulang. Ditengah perjalanan
baru ia sadari ada kotak kecil di dasbor mobilnya. Secarik kertas tertempel
disana. Kertas kecil itu berhasil mencetak satu senyum di bibirnya.
“Dimakan ya, aku yang
masak nih. Kamu sih ketiduran, nih aku bungkusin supaya kamu juga ikutan makan.
Gnight Yogi. *Dylan “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar