Rabu, 15 Oktober 2014

pelarian (part1)

Pelarian
“..namun tiba-tiba kau ada yang punya, hati ini terluka.. sungguh ku kecewa.. ingin ku berkata.. kasih maaf bila aku jatuh cinta, maaf bila saja kusuka saat kau ada yang punya..“
Gadis itu menatap ke sekelilingnya, sepi. Tas punggung dan gitar ditangannya cukup memberatkan. Diliriknya jam tangan memang sudah pukul 8, pasti sudah masuk pikirnya. Ia melangkah menuju area sekolah itu, menuju ke satu ruangan. saat melewati aula tiba-tiba langkahnya terhenti, matanya tertancap di satu titik. Tepat ke tengah lapangan, dimana salah satu cowok sedang asik mendribble bola di tangannya.
Ia merasakan angin berhembus ke arahnya, meniup helai-helai rambutnya. Tatapan itu membuat ia terhenti sejenak, semua benar-benar ke satu titik. Cowok itu. sayup-sayup terdengar lagu Sheila on7 Hari Bersamanya
“Hey,kamu gak masuk ke kelas? Kelas berapa kamu?” Tanya itu seketika membuyarkan pandangannya. Dihadapannya berdiri wanita paruh baya dengan kacamata dan tengah bertolak pinggang sambil memelototinya. Ia hanya menelan ludah, “Maaf buk, saya murid baru. Saya mau nyari kantor guru BK” ujarnya terbata-bata.
Wanita ini sepertinya masih curiga, “baik,ayo ikut saya ke kantor BK. Tapi tolong bando music kamu itu dicopot”. Dylan menatap bingung kearah guru ini, bando music?. Disentuhnya kepala, ternyata earphone. Ia hanya mengulum senyum, “kenapa kamu senyum-senyum?” cewek ini langsung menggeleng cepat.
Dylan mengikuti guru dihadapannya sambil terus memikirkan cowok tadi. “Kalau cowok itu main di aula tadi, berarti dia sekolah disini? Tapi kelas berapa ya? “ pertanyaan itu berkecamuk di kepalanya hingga ia sampai ke kantor BK. “Makasih ya buk” tapi wanita itu keburu balik badan dan tidak mendengar ucapan terimakasih darinya.
Ia mengetuk pintu, tak berapa lama keluar seorang wanita dari dalam dan melemparkan senyum sekenanya,“Maaf buk, saya Dylan. Murid pindahan yang kemarin, saya mau tau kelas saya dimana” ucapnya sambil tersenyum. Wanita yang kali ini terlihat lebih ramah dari yang tadi.
“ohh Dylan, sebentar ya saya cari arsip kamu dulu. Ayo duduk”
Gadis ini menatap ke sekelilingnya, kantor BK nya nyaman. Apa kelasnya akan senyaman ini?. “kamu suka main gitar?” Tanya itu membuat aktfitas menatapnya terhenti. Dylan mengangguk, “sudah berapa lama?” tanyanya lagi. “kira-kira 4 tahun buk” jawabnya sambil tersenyum.
“ini dia arsip kamu, kamu masuk ke kelas XI ips 6. Nanti saya yang ngantar kamu kesana”
“makasih buk” ujarnya seraya berdiri.
“ayo kita ke kelas kamu”
Kelasnya terletak di lantai 2 dan tepat di paling pojok. Tapi disana terdapat balkon yang menghadap langsung ke lapangan basket, jadi kalau ada pertandingan basket ia tinggal menjorokkan kepalanya saja. Basket? Ia jadi teringat cowok tadi.
Tepat di depan pintu kelas, “selamat bergabung” ucapnya sambil tersenyum.
“Permisi buk, ini ada murid baru” seketika aktifitas belajar jadi terhenti. Dan semua penghuni kelas itu menoleh kearah Dylan. Ia jadi salting. Gadis ini mencoba tersenyum menatap kearah mereka. Beberapa cewek disana berbisik-bisik sambil melihat kearahnya. “semoga gak terjadi apa-apa” gumamnya.
“ayo perkenalkan diri kamu”
Dylan menelan ludahnya, ia bisa merasakan keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. “Nama saya Nadylan Aresta, biasa dipanggil Dylan. Saya pindahan dari Bandung. Mohon bantuannya” suasana kelas makin hening dan membuat Dylan ingin pingsan. Tapi tak berapa lama, “SELAMAT DATANG DYLAN!! WELCOME TO OUR CLASS” semuanya berteriak riuh membuat suasana dingin tadi seketika meleleh.
“Maaf ya Dylan, itu memang kebiasaan kelas ips. Kalau ada murid baru mereka akan menyambutnya dengan antusias seperti tadi” Dylan hanya mengangguk paham.
“Kamu duduk di sebelah Yogi ya” cewek ini mengangguk dan berjalan kea rah cowok itu. “ciyeeehhh Yogii, Ciyeeehhhhh” suara sorak sorai bergemuruh hebat. Dylan hanya terdiam dengan wajah heran. Memang ada apa dengan cowok di sebelahnya?. “Mereka emang biasa gitu, welcome ya. Aku Yogi, yuk duduk” wajahnya ramah dan terlihat ceria. Pasti menyenangkan bisa duduk di sebelahnya. “aku gak perlu sebutin nama aku lagi kan?” Tanya Dylan memastikan. “ahaha gak lah, aku dah tau kok. Milan kan? Forza Milan!” tawanya terdengar renyah, ia berhasil membuat Dylan nyaman dengan lingkungan barunya. “Karna ini hari pertama aku maafin deh ya”.
Tiba-tiba ada yang mencolek lengannya, Dylan sontak menoleh. “Hey aku Metha, hati-hati ya sama Yogi. Terlalu nyaman di deket dia bisa bikin jatuh cinta lhoo” bisiknya, namun Yogi bisa menangkap suara itu. “Wahh kau Met, awas deh ya” tunjuknya kea rah Metha. Gadis itu hyanya cekikikan bersama Dylan.
Selamat datang ke lingkungan baru Dylan!
*****
Buku-buku dihadapannya masih putih bersih. Yap, buku baru. Hari ini Dylan sudah resmi kembali ke pekerjaannya, belajar dan mengerjakan tugas dari guru. Ia merogoh tasnya, mencari pensil caplet birunya.
Malam ini ia akan mengerjakan 3 pr yang harus dikumpulkan besok. Dipretelinya nomor di buku ekonomi itu satu persatu, beberapa nomor dengan cepat ia kerjakan. Dan disaat bersamaan satu video call masuk ke hpnya. Metha? “ada apa Met?  Aku lagi ngerjain tugas nih” ujarnya sambil memperlihatkan buku-buku yang bertumpuk di hadapannya. “wah sama dong, kita juga lagi ngerjain tugas. Yuk bareng sini”.
Kita? Dylan sempat bingung dengan ucapan Metha. Dan saat cewek itu mengarahkan kea rah ruang tamunya, ternyata teman sekelasnya tengah berkumpul disana sambil berkutat di buku masing-masing. Tapi ia tidak melihat Yogi disana.
“lho?....” ia baru akan bertanya tapi Metha keburu memotongnya. “Yogi kan? Ciyeehhh, dia lagi OTW tuh kerumah kamu. Buruan siap-siap gih. Kita tunggu ya” telfon itu terputus.
“Dylan, ada temen kamu nihh” suara  mamanya terdengar cukup nyaring. Pasti Yogi, pikirnya.
Ia langsung mengambil bukunya dan memasukkannya ke dalam ransel lalu membawanya turun. “Mau kemana? Pacaran sambil bawa ransel gini” colek mamanya. “eehh mama, mau belajar kelompok tau” ia berusaha membenarkan ucapan mamanya.
Yogi yang berdiri di ambang pintu hanya mengulum senyum. “Yaudah kita pamit dulu ya Tan” pamitnya pada Mama Dylan. “iya, Tante titip Dylan ya Yogi”. Cewek ini langsung terdiam. “lho? Mama udah kenalan sama Yogi? Hah?” begitu cepatnya cowok ini membuat suasana mencair, ia hingga kehabisan kata-kata.
Cowok ini langsung menggamit lengannya.
Sepanjang perjalanan Dylan tidak henti-hentinya bertanya pada Yogi tentang mamanya, tentang sekolah dan semua hal di lingkungan barunya.
“Makanya sering keluar dong nona Dylan” ucapnya sambil menarik lembut pipi Dylan.
Ini lebih dari kerja kelompok!. Metha ternyata nyiapin makanan yang gak terkira, ia sampe ngeluarin panggangan buat bikin barbeque party kecil-kecilan *katanya. “Kok sampe barbequean gini Met? Katanya mau ngerjain tugas?”
“Metha emang gitu, kalau kerja kelompok dirumah dia pasti heboh gini. Jadi mulai biasakan diri ya” bisik Yogi pelan.
“Mama sama Papa aku lagi keluar kota, daripada aku beli makanan diluar mulu mending aku makan bareng kalian disini. Ya kan?” Dylan hanya mengangguk mengiyakan. “Yaudah aku negrjain tugas bentar ya, kalian kayaknya dah pada kelar nih. Ntar kalau dah selesai aku gabung deh” ia beranjak masuk ke dalam rumah Metha.
Rumah ini memang terlalu besar dan terlalu sunyi untuk Metha, jadi wajar aja dia selalu ngundang temen sekelasnya supaya rumah jadi rame. Terlihat hanya beberapa orang saja yang tinggal diruang tamu Metha, “kalian belum pada siap?”.
“Nih udah mau kelar Lan, buruan gih nyalin punya Gian. Dia udah kelar tuh. Dan pasti bener kok” Reno menyodorkan buku itu kearah Dylan. Cewek ini langsung bergegas, saat dirogohnya tas baru ia sadar pensil capletnya tertinggal di atas meja belajar.
“Nih” Yogi meminjamkan pensil caplet putih itu padanya. Tanpa aba-aba Dylan langsung bergegas menyalinnya, dengan Yogi yang menemani di sebelahnya.
Metha melongok kearah ruang tamu, ia memberikan kode pada salah satu temannya yang masih di ruang tamu. Isyarat itu menyuruh agar Reno keluar dan membiarkan mereka berdua saja diruang tamu. Cowok itu pun bergegas keluar dan meninggalkan Dylan bersama Yogi.
Tidak ada percakapan apapun. Dylan benar-benar focus pada tugas –menyalin-nya. Saat selesai baru ia sadar Yogi sudah tertidur. Ia ingin membangunkan cowok itu, tapi guratan lelah itu membatalkan niatnya.
Ia segera bergabung dengan acara barbeque Metha, “mana Yogi?” Tanya Metha saat sadar cowok itu tidak ikut bergabung bersama Dylan. “tidur” ujarnya singkat.
“aku bangunin deh ya”
“ehh gak usah, biar aja. Dia capek tuh, ntar bungkusin aja buat dia”
“tapi dagingnya udah keburu habis, terpaksa masak lagi”
“ya udah sini aku yang masakin” Dylan menyingsingkan lengannya dan mulai membakar daging.
*****
Ternyata cowok ini benar-benar tertidur pulas, “Yogi, pulang yuk?”. Ia mengguncang-guncang tubuh cowok ini. “eengghh~” ia menggeliat. “Yogi… banguunnn!!” teriaknya. Tiba-tiba cowok itu menangkap tangannya, mengenggam keduanya agar tidak bergerak. Dylan sempat terdiam.
Beberapa kali ia mencoba menarik tangannya, bukannya terlapas justru Yogi makin mengetatkan genggamannya. “Gak ada cara lain nih” gumamnya.
“Arggghhh!!” cowok itu langsung terlonjak kaget. “Aw Dylan, sakit!. Kok ngegigit sih?” jeritnya. Ia mengibaskan tangannya karna kaget dan gigitan Dylan yang lumayan sakit. “Ayo pulang, kamu nih tidurnya kebo banget”
Wajahnya terlihat bingung, saat diliriknya kearah jam tangan barulah ia sadar. “Ayo buruan”
“Masih sakit ya?” tanyanya, ia melihat Yogi masih mengibas-ngibaskan tangannya. “Lumayan sih, jangan-jangan gigi kamu taring semua lagi” ucapnya cengengesan.
 “enak aja!”.
Sesampainya dirumah, Yogi ternyata ikut turun. “Aku yang jemput berarti aku yang nganter lagi”.
“Maaf ya Tante, kemaleman nih. Tadi Yogi ketiduran” ujarnya.
“Iya gak apa, makasih ya Yogi. Lain kali kalau mau jalan izinnya kayak tadi lagi ya” wanita paruh baya itu mengedipkan sebelah matanya.
“okesip” ia mengacungkan jempol.
Cowok itu bergegas berjalan kemobilnya dan segera meluncur pulang. Ditengah perjalanan baru ia sadari ada kotak kecil di dasbor mobilnya. Secarik kertas tertempel disana. Kertas kecil itu berhasil mencetak satu senyum di bibirnya.
“Dimakan ya, aku yang masak nih. Kamu sih ketiduran, nih aku bungkusin supaya kamu juga ikutan makan. Gnight Yogi. *Dylan “


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar