Rabu, 15 Oktober 2014

Boyfriend or justfriend?


Kali ini aku hanya menatapnya, dia ada disana. Berdiri dan ikut mengantri bersama pengunjung yang lain. Beberapa kali aku membidikkan kamera kearahnya, dia hanya tersenyum. Kadang sengaja berpose ria, atau longor tanpa disengaja.
Disanalah dia, seorang cowok dengan postur badan tinggi, matanya yang sipit dan selalu membuatku tertawa. Dimas Aulia.
Kami baru jadian beberapa hari yang lalu, dan ini adalah acara nonton kami yang pertama setelah jadian. Dia menghampiri ku sambil menenteng tiket ditangannya, “Nih, ditengah gak apa kan?” tanyanya manis. Aku hanya tersenyum geli. Apapun yang ia lakukan, selalu saja harus membuatku tetap dalam keadaan baik-baik saja.
Aku dan Dimas tengah menjalani masa kelas 12 SMA, masa yang seharusnya dihabiskan untuk belajar. Aku mengakui kalau ini menang salah, tapi kalau cinta sudah berkata? Maka yang salah pun bisa dibenarkan.
Baginya, aku adalah pacar pertamanya. Ia baru pertama kali pacaran, sedangkan aku? Ya beberapa kali saja aku menjalani masa jomblo, haha. Dia  yang tengah ada dihadapanku, sekarang resmi jadi milikku. Sebenarnya aku tidak percaya dengan ini, kalau kalian tau bagaimana pertama kali kami bertemu.
Dimas dan aku adalah teman satu les semasa smp dulu. Dia tergolong anak yang hobi banget cabut dan bahkan aku tidak terlalu mengenalnya, aku hanya tau namanya saja saking seringnya dia membolos.
Setelah tiga tahun lost contact, kami bertemu lagi di salah satuu jejaring social. Aku tidak ingat kapan aku berteman dengannya. Dengan cepat kami mulai dekat, tau kebiasaan satu sama lain dan akhirnya jadian. Ya jadian kami seperti orang kebanyakan, tidak terlalu seru untuk diceritakan. Yang jelas saat ini aku berada di dekatnya, dn keliatannya ia selalu ingin membuatku terlihat baik-baik saja.
Kadang kami gandengan, tapi lebih sering tidak sih. Aku tidak tau kenapa, yang jelas aku tidak terlalu menuntutnya untuk bersikap romantis padaku. Bingung? Aku pun juga. Tapi begitulah aku dan dimas. Selalu apa adanya, normal dan malah terlalu biasa.
Film yang kami tonton ternyata berbau horor, aku hanya melongo dengan tampang takut. Sementara dimas? Dia asik mengerjaiku dengan mencolek, atau sengaja bergumam seperti film yang tengah kami tonton.
Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, dia tidak menggandengku saat masuk dan keluar dari bioskop. “Masih siang nih, jalan lagi yuk?” ajaknya lagi. Aku hanya mengangguk dan menggikutinya dari belakang. Yap, berjalan terpisah. Kadang aku harus berlari kecil untuk mengejarnya, sepertinya ia terganggu berjalan terlalu dekat denganku.
Hal lain yang sering membuatku bertanya apakah ia sayang padaku atau tidak adalah.. rutinitasnya. Ia bahkan jarang menelfonku, tap kalau dalam frekuensi sms. Dia tidak pernah absen!
“Pagi sayangg”
“Pagi beyy, udah bangun belumm??”
“oiii bebeykuu”
Temanku sering memujiku karna aku dan dimas sangat jarang atau bahkan tidak pernah berkelahi. Jadi hubungan kami makin terasa datar dan hampa. Aneh banget ya?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar