Kali ini aku
hanya menatapnya, dia ada disana. Berdiri dan ikut mengantri bersama pengunjung
yang lain. Beberapa kali aku membidikkan kamera kearahnya, dia hanya tersenyum.
Kadang sengaja berpose ria, atau longor tanpa disengaja.
Disanalah dia,
seorang cowok dengan postur badan tinggi, matanya yang sipit dan selalu
membuatku tertawa. Dimas Aulia.
Kami baru jadian
beberapa hari yang lalu, dan ini adalah acara nonton kami yang pertama setelah
jadian. Dia menghampiri ku sambil menenteng tiket ditangannya, “Nih, ditengah
gak apa kan?” tanyanya manis. Aku hanya tersenyum geli. Apapun yang ia lakukan,
selalu saja harus membuatku tetap dalam keadaan baik-baik saja.
Aku dan Dimas
tengah menjalani masa kelas 12 SMA, masa yang seharusnya dihabiskan untuk
belajar. Aku mengakui kalau ini menang salah, tapi kalau cinta sudah berkata?
Maka yang salah pun bisa dibenarkan.
Baginya, aku
adalah pacar pertamanya. Ia baru pertama kali pacaran, sedangkan aku? Ya
beberapa kali saja aku menjalani masa jomblo, haha. Dia yang tengah ada dihadapanku, sekarang resmi
jadi milikku. Sebenarnya aku tidak percaya dengan ini, kalau kalian tau
bagaimana pertama kali kami bertemu.
Dimas dan aku
adalah teman satu les semasa smp dulu. Dia tergolong anak yang hobi banget
cabut dan bahkan aku tidak terlalu mengenalnya, aku hanya tau namanya saja
saking seringnya dia membolos.
Setelah tiga
tahun lost contact, kami bertemu lagi di salah satuu jejaring social. Aku tidak
ingat kapan aku berteman dengannya. Dengan cepat kami mulai dekat, tau
kebiasaan satu sama lain dan akhirnya jadian. Ya jadian kami seperti orang
kebanyakan, tidak terlalu seru untuk diceritakan. Yang jelas saat ini
aku berada di dekatnya, dn keliatannya ia selalu ingin membuatku terlihat
baik-baik saja.
Kadang
kami gandengan, tapi lebih sering tidak sih. Aku tidak tau kenapa, yang jelas
aku tidak terlalu menuntutnya untuk bersikap romantis padaku. Bingung? Aku pun
juga. Tapi begitulah aku dan dimas. Selalu apa adanya, normal dan malah terlalu
biasa.
Film
yang kami tonton ternyata berbau horor, aku hanya melongo dengan tampang takut.
Sementara dimas? Dia asik mengerjaiku dengan mencolek, atau sengaja bergumam
seperti film yang tengah kami tonton.
Dan
seperti yang aku katakan sebelumnya, dia tidak menggandengku saat masuk dan
keluar dari bioskop. “Masih siang nih, jalan lagi yuk?” ajaknya lagi. Aku hanya
mengangguk dan menggikutinya dari belakang. Yap, berjalan terpisah. Kadang aku
harus berlari kecil untuk mengejarnya, sepertinya ia terganggu berjalan terlalu
dekat denganku.
Hal
lain yang sering membuatku bertanya apakah ia sayang padaku atau tidak adalah..
rutinitasnya. Ia bahkan jarang menelfonku, tap kalau dalam frekuensi sms. Dia tidak
pernah absen!
“Pagi sayangg”
“Pagi beyy, udah bangun belumm??”
“oiii bebeykuu”
Temanku
sering memujiku karna aku dan dimas sangat jarang atau bahkan tidak pernah
berkelahi. Jadi hubungan kami makin terasa datar dan hampa. Aneh banget ya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar