Cowok
Basket
Hari ini
pelajaran tidak terlalu berat, ya cukup berimbang lah dengan jam kosong karna
ditinggal guru. Aktifitas hari ini dipenuhi dengan acara nonton horror. Tasya
yang suka film horror membawa semua kaset yang ia punya ke sekolah untuk acara
“NOBAR” dadakannya. Satu lagi aktifitas yang Dylan sukai disini. Dan film pun
usai tepat dengan bel pulang sekolah, Metha tiba-tiba menghampirinya. “Eh hari
ini ada pertandingan basket lho, sekolah kita lawan SMAN Batik!” suaranya
terdengar antusias memberitahu Dylan. Namun cewek ini terlihat biasa saja karna
menurutnya pertandingan basket memang sewajarnya ada kan?.
“Emang ada yang
menarik sampai kamu ceritanya gitu banget,Met?” ia tetap meneruskan
aktifitasnya merapikan buku.
Cewek ini
menepuk jidatnya, ia lupa kalau Dylan murid baru disini dan pasti dia tidak tau
soal anak basket di sekolahnya. “Karna hari ini kapten basket ikutan turun ke
lapangan!!” jeritnya tertahan. Beberapa penghuni kelas langsung mendekat kearah
pembicaraan mereka.
“Wah! Andre
turun ya Met? Aku mesti nonton nih!! Dah lama gak liat dia main sebagai kapten.
Ayo cabut ke aula!!” mereka langsung berbondong-bondong turun. Metha langsung
menggamit lengan Dylan, mau tidak mau ia harus mengikuti arah tarikan itu.
Aula penuh!.
Sepertinya berita tentang Andre yang main sebagai kapten membuat mereka semua
antusias, kecuali Dylan. Ia lebih kearah penasaran daripada tertarik. Ternyata
pertandingan belum dimulai, ia menghubungi mamanya meberitahu bahwa ia akan
sedikit terlambat untuk pulang.
“Sayang banget
Yogi gak ikutan nonton, aku kabarin dia dulu kali ya?” tanyanya pada Metha.
Tapi temannya ini tampak tak mendengrakan, karna ia terlihat focus ke tengah lapangan
basket. Padahal pertandingan belum dimulai.
Me
: Yogi? Udah balik dari rumah saudaranya? Aku sama Metha nonton basket di
sekolah nih. Kalau dah pulang nyusul kesini ya.
Tepuk tangan
mulai menggema, spertinya pertandingan akan dimulai. Benar saja para pemain
basket dari masing-masing sekolah mulai masuk. “Keliatan kan kaptennya?
Gimana?” ia menyenggol lengan Dylan. Cewek ini menyipitkan matanya, berharap
bukan cowok itu yang dilihatnya.
Astaga, benar!.
Itu dia! Cowok yang ia lihat saat pertama kali masuk ke sekolah ini. Jadi dia
kapten basket? Kharismanya mampu menghipnotis dalam sekejap. Tanpa senyum, tapi
matanya memperlihatkan kekuatan kharisma yang ada dalam dirinya.
“Dia beneran
kapten basket Met?” wajahnya masih menunjukkan rasa tidak percaya.
“Ya benerlah,
masa bohongan? Keren kan? Namanya Andre Mosha Nugraha, senior kita tuh.”
Jelasnya sambil tetap focus ketengah lapangan.
“Mosha? Apaan
tuh? Kayak nama bule gitu”
“Gak tau, yang
jelas namanya unik. Jadi ada nilai tambah gitu deh, udah ah jangan ajak aku
cerita. Aku kesini mau nonton bukan mau cerita, kalau mau tau info tentang dia
besok deh aku certain”
Jawaban Metha
membuat Dylan menatapnya dengan jengkel, segitu fanatiknya kah?. Ia rasa 90%
cewek-cewek disini hanya ingin menonton Andre, bukan pertandingan basketnya. Dylan
pun demikian, jujur ia memang terpukau pada permainan Andre yang dikombinasikan
dengan kharismanya. Beberapa kali ia melakukan fast break, dan shooting dengan indah. Sorak sorai selalu
bergemuruh dari kubu tempat ia duduk saat ini. Saat ia melihat ke sekelilingnya
ternyata tribun itu penuh dengan cewek-cewek. “Lama-lama budeg nih” gumamnya.
Saking asiknya
ia sampai tidak menyadari hpnya terus menyala, menandakan ada sms masuk. Tapi sang
pemilik hp ini terlalu asik dengan cowok basket dihadapannya. Hingga
pertandingan pun usai, hp itu tetap terbengkalai.
“Keren banget,
seharusnya dia sering-sering jadi kapten tuh.”
“Gak nyesal deh
pulang jam segini cuman buat liat kapten kece sekolah kita!!”
Ucapan-ucapan
itu memang benar adanya, Dylan juga mengiyakan semua komentar itu. Ia langsung
mengecek hpnya, layar hp itu mebuatnya membelalak kaget. 20 sms dan 5 panggilan
tidak terjawab? Tepat, Yogi!.
Yogi
: oke ntar aku coba nyusul ya
Yogi
: hey, aku kayaknya gak bisa deh. Tapi kalau jemput kamu sih bisa, gimana?
Yogi
: serius banget nontonnya buk?
Dan masih banyak
sms yang lainnya, dan sms terakhir membuat Dylan langsung lari tergopoh-gopoh
kearah gerbang.
Yogi
: aku udah di gerbang ya tuan putri. Buruan!
Sesampainya di
gerbang, benar saja. Yogi berdiri disana sambil menatap ke layar hp nya. “Siapa
yang minta jemput sih? Kamu nih!” dijitaknya kepala cowok ini. “Lho? Tadi
nyuruh aku kesini kan? Ya udah deh aku balik aja” belum sempat ia berbalik,
Dylan menahan lengan kokohnya.
“Iya deh aku
yang salah. Yuk pulang? Eh Metha?” ia baru sadar langsung lari ke gerbang dan
lupa pada temannya itu.
“Udah dia mah
gampang, palingan bareng pacarnya”
“Lho? Metha udah
punya pacar? Kok dia antusias banget tadi nonton si Andre?” pertanyaan bodoh
itu membuat Yogi langsung menatapnya lekat-lekat.“Andre? Dia main sebagai
kapten?” Dylan mengangguk kuat. “Yuk pulang” ia langsung menarik tangan cowok
itu dan tidak peduli dengan wajah kaget Yogi.
*****
Esoknya Dylan langsung
berlari menuju kelasnya, menimbulkan derap langkah yang terdengar nyaring. Ia
benar-benar tergesa. Sesampainya dikelas, ia langsung celingak-celinguk di
depan pintu. Mana Metha?.
“woi! Jangan
tegak di depan pintu” ia tersentak kaget lalu menoleh ke belakang. “Busett,
masih pagi neng! Ke kantin mulu nih kerjaan kau!” ia menoyor kepala Metha. Beberapa
detik kemudian ia tersadar akan tujuannya mencar Metha. “Buruan cerita!”
Metha memasang
wajah tidak mengerti, cerita apaan? Pikirnya. Dylan melihat ke sekitarnya
memastikan tidak ada yang mendengarnya, karna ia rasa nama ini sangat berbahaya
bila didengar orang lain. “Andre” bisinya lirih, nyaris tidak terdengar.
Untung saja
radar pendeteksi suara Metha sudah di set, jadi apapun yang berhubungan dengan “Andre”
radarnya itu akan segera connect!. Ia menarik Dylan kea rah balkon, tempat yang
cocok untuk cerita karna posisinya bisa melihat siapapun yang akan masuk ke
kelas. Termasuk guru.
Dylan menanti
dengan rasa penasaran, sedangkan Metha merasakan degup jantungnya berdetak
lebih cepat. Ini adalah kesekian kalinya ia harus mengulang cerita Andre yang
penuh dengan misteri, namun mendebarkan. Cerita miris tapi masih terus ingin
didengarkan. Dylan merasa cerita ini akan memakan waktu lama. Ya iyalah,
pembukaannya aja membutuhkan persiapan seperti ini!. Ia pun menyandarkan
tubuhnya ke tembok, bersiap mendengarkan apapun yang meluncur dari mulut Metha.
Cerita itu pun
dimulai…
*****
Andre Mosha
Nugraha. Nama yang sudah lama terkenal dia SMA Pramuka. Kharismanya yang selalu
terpancar serta jabatannya sebagai kapten basket membuat ia selalu menjadi trending topic.
Apalagi sikapnya memimpin dan menguasai lapangan basket saat bermain, it’s so
charming. Terlebih lagi postur badanmya yang tinggi dan atletis. Matanya yang
coklat dan sapuan alis mata yang member kesan tegas. Rahangnya yang kokoh serta
lengan-lengan yang siap menghadang musuh dan menopang cinta.
Bukan hanya di
pertandingan yang membuat sekolah geger, bahkan ketika latihan pun ada saja
kejadian yang diperbincangkan oleh para gadis supporter Andre. Tapi kesannya
yang dingin membuat cewek-cewek ini sadar akan posisinya secara nyata. Ada
garis kuning yang mereka harus ada di belakangnya.
Hanya
cewek-cewek beruntung yang bisa bicara dengannya, dan cewek-cewek beruntung itu
adalah teman sekelasnya. Bisa dibayangkan bagaimana suasana belajar kelompok
saat ada Andre didalamnya? Sungguh tenang!.
Para cewek itu
tidak banyak berkomentar dan berceloteh, mereka hanya menatap Andre dengan
desah nafas tertahan. Alhasil, para cowok dikelas Andre kesal karnanya. Mereka
lebih memilih isi kelompok itu cowok semua atau Andre yang tidak ada di
dalamnya.
Lain halnya
dengan cewek-cewek yang tidak sekelas dengan Andre. Mereka hanya bisa berharap
bisa bertegur sapa dengannya dijalan. Sekedar bertegur sapa saja itu sudah
rekor, itu malah ketinggian. Malah yang lebih parahnya hanya dilihat saja
cewek-cewek itu sudah pada heboh sendiri. Ia tidak bisa membayangkan kalau
Andre berpidato, mungkin sekolah terpaksa menyiapkan ambulance untuk para
siswinya.
“Cinta harus
diperjuangkan” mungkin ini yang tertanam di kepala para cewek yang mengejar
Andre saat ini. Bila tidak bisa mendapatkan perhatiannya secara langsung,
mereka mencoba dengan hadiah!. Alhasil meja cowok itu akan selalu penuh dengan
bunga, coklat, puisi dan hal-hal lain khas dari cewek.
Dibuang? Itu mah
tindakan kedua. Tindakan pertama, Andre akan melihat nama pengirim dan dimana
kelasnya. Lalu ia akan mengantarkan hadiah itu ke kelas cewek tersebut. Tanpa
kata-kata ia langsung meletakkannya dihadapan cewek tersebut. Malu? Pastilah.
Ditolak di depan jidat kita, gimana gak malu coba?
Ternyata pake
nama mah gak mempan, mereka mulai menjadi “Pengagum Rahasia”. Ntah kenapa nih
cowok selalu menolak dengan cara yang paling ampuh dan pasti bikin cewek gak
bakal mau deket-deket sama dia. Tindakan kedua dilakukan saat hadiah-hadiah itu
sudah mulai membuatnya muak.
Tepat di sudut
sekolah terdapat satu tong sampah besar. Para siswa di SMAN Pramuka bisa
melihatnya dari segala penjuru. Hari itu mungkin hari paling memalukan untuk
para cewek pengagum Andre. Tepat disaat istirahat, cowok itu turun dari lantai
tiga dengan menyeret kantong besar. Suara seretan itu membuat semua penghuni
kelas keluar dan bertanya-tanya, apa yang ada di dalam karung itu?.
Mereka pun tetap
menunggu dan melihat dari balkon apa yang akan terjadi selanjutnya. Andre
membuka isi karungnya, salah satu isinya terjatuh dan membuat para cewek jadi
tutup muka menahan malu. Hadiah mereka dibuang satu persatu oleh Andre!.
Tapi kok cuman
bunga? Kemana coklatnya? Apa dikumpulin lalu dijual lagi?
Beberapa hari
setelah itu mereka tau kemana coklat-coklat itu pergi. Salah seorang dari
penggemar Andre mengikutinya saat pulang. Cowok itu berhenti di sebuah panti
asuhan yang cukup lusuh. Anak-anak disana menyambutnya dengan riang, sepertinya
ia sudah cukup akrab dengan anak-anak disana. Cowok itupun kembali ke mobilnya
dan membuka pintu belakang, disana bertumpuk coklat-coklat hadiah dari
cewek-cewek itu. Ia pun mulai membagikan coklat tersebuat pada anak-anak disana.
Lagi-lagi cowok ini menutupi nilai minus yang nyaris dicetaknya.
Melihat sikap
Andre yang selalu acuh tak acuh , para cewek ini mulai mencari pacar. Ternyata
setelah pacaranpun mereka masih saja memantau sang idola sekolah. Cinta pertama
saat bersekolah disini.
Dibalik itu
semua Andre menyimpan kisah cintanya yang kelam. Permainannya kemarin membuat
seisi sekolah geger, karna ini kali pertama ia turun ke lapangan sebagai kapten
setelah kejadian di masa lalu.
Masa lalu kerap
kali mengurung, itulah yang dirasakannya. Mungkin orang berfikir, “mellow
banget sih jadi cowok?”. Tapi itulah kenyataannya, ia memang lemah dengan rasa
itu. rasa yang indah dan membungkus rasa sakit didalamnya.
Cinta yang ia
tunjukkan ternyata tidak berbalas dengan hal yang sama, justru sebaliknya. Ingin
berlari tapi ia belum cukup kuat untuk berdiri. Berharap dirinya bisa menjadi
kapas saat itu, melayang sesaat untuk melepas beban yang membasahinya.
Mosya? Nama yang terdengar unik bukan? Mungkin
orang berfikir nama itu seperti nama bule-bule yang sengaja disematkan padanya.
Atau sebuah nama yang diambil dari filosofi kuno, dan hal-hal lainnya.
Tapi
sesungguhnya ada makna lain dibalik nama itu, ada ikatan dibalik nama itu. Sebuah
lagu yang tengah menanti untuk diengarkan, tapi pemutarnya terlalu tua dan
enggan untuk menari dengan piringan lagu itu.
Kisah klasik
yang cukup menyakitkan untuknya, cinta yang pergi begitu saja. Harapan yang
lepas dengan nyata di hadapannya, kebohongan yang terbongkar langsung oleh
pelakunya. Ucapan itu masih terngiang-ngiang jelas ditelinganya. Masih sama
persis.
*****
“Aku gak mau punya hubungan kayak gini! Kenapa aku
gak boleh punya hubungan sama cowok lain? Kenapa?! Ini gak adil!” teriaknya
kearah laki-laki itu. seolah-olah dialah penyebab semua keterkurungannya selama
ini.
“apa kamu gak ada rasa buat aku cha? Apa kedekatan
ini hanya karna ikatan orangtua kita?”
“iya” jawaban ketus dengan rasa putus asa. Cowok ini
hanya bisa terdiam, ia kehabisan kata-kata. Apa yang hars ia katakana? Gadis
dihadapannya jelas-jelas sudah menolaknya dengan tegas. Apa yang harus
ditahannya?
“Cha, tenangin diri kamu dulu”
“Diam kamu! Aku capek tau gak. Berpura-pura bahagia
padahal aku terkurung. Aku cumin mau ngerasain cinta yang sebenarnya. Murni.
Bukan cinta yang diatur kayak gini!”Ia meraih gadis itu dalam rengkuhannya,
membiarkannya terdiam disana. Merasakan tiupan angin di telinganya, seolah-olah
menyanyikan lagu “selamat tinggal”.
Untuk beberapa saat ia berharap gadis ini akan
berubah pikiran, hingga dalam rengkuhannya pun gadis ini tidak bereaksi
apa-apa. “kalau kamu emang gak mau punya hubungan kayak gini oke, aku bakal
bilang ke orangtua kamu dan aku supaya perjodohan ini dibatalin. Oke?” suaranya
tercekat,getir.
Gadis ini tidak medengarkannya, pikirannya kacau.
Kenapa ia harus dijodohkan terlalu dini? Kenapa?.
Andremenguraikan pelukannya, menatap gadis ini
dengan luka. Meskipun dijodohkan tapi cowok ini memang menyayangi gadis
dihadapannya ini. Ia ingin menahannya, tapi ia rasa saat ini adalah waktu untuk
membiarkannya lepas. Meskipun berat, tapi ia harus melakukannya.
“Kalau kamu sudah lelah mencari cinta yang semu,
tolong datang lagi padaku. Akan aku tunjukkan cinta yang nyata”
Angin bertiup pelan mengiringi perpisahan itu. Tidak
ada yang bisa disalahkan kalau hati sudah bicara. Mencoba menerima dengan
robekan hati yang tak terduga.
*****
Cewek ini hanya
bisa melongo dengan apa yang didengarkannya barusan. Sebuah kisah klasik yang
ditutup dengan teka-teki.
“Dor!”, “bugh”.
Yogi datang dan membuat kepala Dylan terbentur ke belakang dengan
kerasnya,kaget. “Yogiiiiii!” teriaknya nyaring. Cowok ini hanya terkekeh geli,
ia mengusap kepala Dylan yang terbentur tadi.
“Aduh! Ngiluuu~”
“Ya habis,
ceritanya keliatan seru. Yaudah sekalian latihan jantung” ujarnya sambil
terkekeh.
“latihan
nyopotin jantung maksudnya?” Tanya Dylan dengan tampang cemberut, cowok ini
hanya cengengesan saja.
Cerita Metha
malah membuat rasa penasaran Dylan kian membuncah. Ia ingin menyelesaikan
teka-teki ini. Menyelesaikan dengan berakhir bersamanya atau berakhir dilain
hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar