Rabu, 15 Oktober 2014

pelarian (part3)

Yogi
Mungkin ia punya daya tarik tersendiri. Membuat magnet yang tak dapat disadari hingga kita terseret ke dalamnya. Dylan. Ntahlah, aku pun masih tidak mengerti. Mengapa aku selalu ingin ada di dekatnya sejak pertama kali bertemu?.
Sejujurnya aku memang mudah bergaul dengan siappaun. Tapi untuk kali ini, beda. Saat pertama kali ia memperkenalkan dirinya, aku sudah terkunci disana. Aku tidak bisa berlari. Aku bisa merasakan dunia ku berputar lambat, ada angin bertiup pelan, dan sayup-sayup terdengar lagu Sheila on7 – Hari bersamanya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa saat tau ia duduk disebelahku. Bangku itu dulunya pernah diduduki seseorang. Ya, seseorang yang dekat denganku juga. Tapi sudahlah, untuk apa dibahas? Bukannya kita tidak boleh terlalu terkurung dengan masa lalu?.
Setiap hari hanya celotehan yang keluar dari mulutnya, wajar sih “cewek” gitu. Tapi aku lebih suka memperhatikannya dalam diam. Saat tengah mendengarkan music dengan earphonenya, atau saat ia sedang serius dengan gitarnnya. Gitar itu membuat aura manisnya lebih terpancar, dan membuatku terhipnotis.
Haha aku sering menertawakan diriku saat sadar aku mulai terjebak dalam dunia Dylan. Sama seperti saat ini. Aku malah memajang fotonya di salah satu dinding kamarku yang memang kosong, ditambah sebuah wallsticker yang memang sengaja aku beli untuk menambah desainnya. Aku hanya bisa mendesah melihat fotonya, ada apa denganku? Kenapa kalian hanya bisa melongo membacanya? Haha kalian pasti tau maksudku kan?.
Aku menyukainya.
Kata-kata itu selalu saja sempurna saat aku hanya berhadapan dengan fotonya. Kali ini akan aku coba lagi.
*****
“Dylan…”
“Ya?”
“aku…”
“Kenapa? Kok keringetan?”
“Hmmhh…”
“Aku rasa bibit ini udah jadi pohon. Dan aku gak bisa merawatnya sendiri, kamu mau bantuin aku?”
“ya pas…”
“ssstt…, kamu terlalu polos untuk baca hati aku. Untuk baca sikap aku. Mungkin sekarang kamu harus mendengarkannya secara nyata. Dengan jelas dan menatap mataku langsung” matanya mulai berkilat. Aku bisa mendengar suara detak jantungku makin berpacu dengan derasnya keringat dingin di pelipisku.
“Yogi.. kamu bikin aku takut” suaranya terdengar lirih. Aku hanya bisa merengkuhnya, membiarkan ia disana dengan pekatnya cinta yang mungkin terasa olehnya.
“Kamu gak perlu takut. Seharusnya aku yang takut, takut kehilangan kamu. Aku sayang kamu Lan… apa kamu ngizinin aku? To be your hero?”  sesaat setelah mengatakan itu, ia tidak bereaksi apa-apa. Bahkan aku tidak mendengar jawabannya. Tapi pelukannya makin erat, aku bisa merasakan ia mengangguk.
*****
Sekali lagi, aku hanya berhasil pada fotonya. Hanya bisa menggeleng lemah saat tau nyaliku belum cukup kuat untuk mengatakannya secara langsung. Mungkin besok, nanti atau kapan saat nyali itu benar-benar muncul.

Untukmu, aku akan belajar menunggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar